Empat hari lagi kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita yang kesekian.. Seharusnya.
Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut langkah sang kala. Meninggalkan semua benda yang tersapu tangan kenangan yang perlahan, tapi pasti terlupa.
Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepalaku senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku yang terlalu lama terbuai dengan semua rasa sakitnya.
Dan ya, ini tentang kamu. Bukan dia, dia, atau mereka. Ini kamu, Sang Kabut tak Tergenggam.
Tapi dengarlah, aku kangen.. Kangen akan “kita” di kala lalu atau yang sempat ada di masa kita tak lagi bersama.
Hanya rasa beberapa saat, kata mereka. Tapi biarlah, dengan begini tidak ada yang terluka.
Terkecuali aku, tentu saja *tertawa miris*
Dan jangan merasa bersalah tentang itu. Aku adalah seorang masokis yang menikmati setiap senti hati yang teriris oleh cambuk kenangan yang tak kunjung habis.
Kuputar kembali lagu-lagu lama. Teringat ketika kau menyanyikannya untukku dengan gitarmu itu, di samping jendelamu. Masih ingatkah kau saat itu?
Aku kangen. Kangen yang pernah ada dan tetap terangkai sama serupa. Kangen akan satu nama yang tetap terukir di atas desir yang berdetak memanggil.
Dan bahkan ketika kala telah menghantar pergi sebuah masa, rasa yang sama masih tetap ada dengan defenisi yang berbeda.


