Hujan Kali Ini

Image

Dear Kamu,

Terasa aneh melihat langit yang sama dan menghirup udara yang sama denganmu, tapi sudah tidak ada kamu. Hujannya juga masih sama rapatnya,tanahnya juga masih sama wanginya. tapi tidak ada kamu lagi.

Apa kabarmu di sana? Boleh aku bilang aku kangen kamu? Kamu tidak pernah bilang Jakarta bisa sesendu ini. Aku tidak pernah tahu langit Jakarta bisa bergradasi sebegitu sempurnanya setiap kali habis hujan di sore hari.

Hahaha, sebenarnya aku tidak tahu apa yang ingin aku tulis untukmu, Claro.. Sementara ketika bertemu kamu saja hanya bisa tertunduk dan mataku mulai berkaca kaca. Bodoh! Iya, cuma aku tidak tahu apa lagi yang tersisa untuk dibicarakan.

Sebaiknya memang seperti ini, Claro. Tidak usah ada “kita”. Kita tidak bisa selamanya hidup seperti Jack and Sally seperti dalam lagunya Blink 182 . Kita harus hidup. Walaupun aku harus membunuh diriku sendiri, tapi kita harus hidup.

Dan sekarang, di sinilah aku sendiri. Hujan, coklat panas, di Jakarta, tanpa Kamu, hanya dengan sepotong kangenku yang aku punya entah untuk apa. Hanya bernarasi sendiri dengan kenangan. Tapi tak apa, kenanganmu sudah lebih dari cukup. Benar katamu, Memori itu membuat kita benar-benar hidup. Akan datang hujan, dimana aku ingat kamu bukan lagi dengan rasa sakit.

Sedikit Aku

Dear, kamu

Apa yang kau ketahui tentang senja, selain warna langit yang tidak kuning dan tidak hitam?

Apa yang kau ketahui tentang aku?

Tahu kah kau, selama ini aku kerap berfoya foya dengan kehilangan?

Sudahkah kau rindu aku?

Atau tidak pernah kau pupuk rindu di dalam situ?

Melepaskanku, kebahagiaanmu, kah?

Surat Cinta untuk Sang Kenangan

Image

Empat hari lagi kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita yang kesekian.. Seharusnya.

Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut langkah sang kala. Meninggalkan semua benda yang tersapu tangan kenangan yang perlahan, tapi pasti terlupa.

Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepalaku senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku yang terlalu lama terbuai dengan semua rasa sakitnya.

Dan ya, ini tentang kamu. Bukan dia, dia, atau mereka. Ini kamu, Sang Kabut tak Tergenggam.

Tapi dengarlah, aku kangen.. Kangen akan “kita” di kala lalu atau yang sempat ada di masa kita tak lagi bersama.

Hanya rasa beberapa saat, kata mereka. Tapi biarlah, dengan begini tidak ada yang terluka.

Terkecuali aku, tentu saja *tertawa miris*

Dan jangan merasa bersalah tentang itu.  Aku adalah seorang masokis yang menikmati setiap senti hati yang teriris oleh cambuk kenangan yang tak kunjung habis.

Kuputar kembali lagu-lagu lama. Teringat ketika kau menyanyikannya untukku dengan gitarmu itu, di samping jendelamu. Masih ingatkah kau saat itu?

Aku kangen. Kangen yang pernah ada dan tetap terangkai sama serupa. Kangen akan satu nama yang tetap terukir di atas desir yang berdetak memanggil.

Dan bahkan ketika kala telah menghantar pergi sebuah masa, rasa yang sama masih tetap ada dengan defenisi yang berbeda.

Hanya untuk Direnungkan

Kalau Dia menginginkannya terjadi, maka semua kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit dan bumi menggagalkannya, Sebaliknya kalau Dia tidak menginginkannya,maka sebuah kejadian tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit dan bersekutu melaksanakannya,,, 

Mengapa Dia memudahkan jalan bagi orang jahat?

Mengapa Dia justru mengambil kebahagian dari orang-orang baik? itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna, berjuta wajah, berjuta bentuknya hanya satu cara untuk berkenalan , dengan bentuk-bentuk itu selalu berprasangka baik,  semua hanya rumus sederhana berharap sedikit memberi banyak maka kau akan menerima keadilan Dia

Ketika kau merasa hidup mu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untuk mu,,janji-janji masa depan,dan sebaliknya ketika kau merasa hidup mu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung dari mu, hanya sesederhana itu,,dengan begitu kan selalu pandai bersyukur

 
 

ketika variable tak bernama itu mempunyai nama

Ada yang pernah bilang ke gw, tempat yang paling aman pada saat badai, justru di tengah badai itu sendiri. Dan di sinilah gw sekarang. Berada tepat di tengah-tengah badai. Tepat berada dimana semua ini berawal.

Awalnya semua terasa nyesek banget. Gw lupa kehilangan bisa begini sakitnya, tapi adalah suatu proses yang pasti kita semua lalui. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk suatu kesenangan dalam kurun waktu tertentu. Dan gw bilang itu worth it kok. Walaupun gw harus berdarah-darah dan cedera kanan kiri untuk membiasakan berjalan sendiri lagi, pun gw masih bilang ini worthy. Bahkan ketika semuanya tidak lagi berada di tempatnya seperti sedia kala.

Contoh kecil aja di kamar ini. Bau kamarnya aja masih bisa ingetin gw ama segala sesuatunya 1 bulan lalu, bahkan satu minggu lalu. Damn, gw selalu mengutuk diri sendiri yang mempunyai ingatan fotografis yang bahkan potongan terkecil kenangan pun terekam dengan baik. Dan ingatan keparat ini yang justru selalu sukses menjebak gw di suatu kenangan tertentu.

Dan bagaimana gw tiba2 inget dia lagi kalau gw ngelewatin plang di jalan tol dengan tulisan ‘cawang’. Atau kalau gw ke ciwalk dan inget gimana gw masih punya waktu2 yang luar biasa ama dia. Pernah punya, walaupun itu udah lewat, bukan berarti itu bukan sesuatu yang ga meaningful lagi lho.

Sekarang begini, gw stuck dengan semua kenangan itu dan gw mencoba untuk terbiasa walaupun gw harus, yang seperti kata gw tadi, berdarah darah atau cedera kanan kiri, tapi gw harus. Mungkin ini sesuatu yang akan lebih gampang buat dia atau justru juga sama sulitnya seperti gw, gw ga tau.. Tapi gw cuma mau mengakui kalau ini semua tidak mudah buat gw. Sama halnya gw mengakui buat diri gw sendiri ketika gw kecewa, ketika gw marah, bukan sesuatu untuk dikasihani.

Gw cuma punya hari ini atau gw punya 1, 5, atau bahkan 10 taun lagi juga apa bedanya? Menurut gw ga ada. Intinya gw pernah punya kan? Jadi, terima kasih Tuhanku yang Maha Baik sudah merancang skenario ini dengan begitu indahnya. Ya siapa sih yang suka bad ending? Tapi keseluruhan tetap suatu cerita yang pantas dikenang kok. And for you.. Unknown Variable, I had so much good times, even you never ask me again. Really nice to know you. Dan sekarang unknown variable itu mempunyai bentuk yang nyata: kenangan.

….

 

Dear, kamu…

Bagaimana kabarmu? Oya, boleh aku bilang aku kangen kamu?

Bandung lagi sendu. Hujan menyambut setiap senja datang. mengantar bau tanah yang basah, menyegarkan paru-paru yang penat dengan debu. Tiba-tiba ingat kamu.

Dulu kamu selalu bilang, “Hime, kamu tahu tidak apa yang paling menyenangkan ketika hujan turun? Secangkir coklat panas, dan duduk di dekat jendela. Melihat setiap rinai yang jatuh. Ada kedamaian di situ lho.” Masih seringkah kau duduk di dekat jendela dengan coklat panasmu dan dengan gitarmu itu? Atau sekarang sudah berganti? Bukan hanya coklat panas dan jendela. Tetapi sudah ada seseorang di sana yang menghangatkanmu melebihi coklat panasmu?

Apa kabar Jakartamu? masih ingat ketika kita berkeliaran di tengah hutan beton jakarta, menantang garangnya mataharinya? lalu kamu mengantarku pulang ke stasiun tepat setelah senja mulai menepi. kamu masih ingat? hari yang luar biasa. aku kangen itu juga.

kangen petikan gitarmu. kangen lagu ‘love of a lifetime’ nya firehouse yang sering kamu nyanyiin. rasanya sudah lama sekali tidak ada suara gitar. tidak ada tarikan suara khasmu lagi. aku kangen itu.

Aku kangen edisi jalan-jalan malam kita di jalan plesiran. udara bandung yang dingin-dingin nyentil… tunggu kamu ke bandung aja yaa.. (tapi tidak tahu kapannya)

 

 

 

aku pergi…

dear, kamu… (lagi-lagi males nyebut merek ah)

duduklah sebentar saja.. malam sebentar lagi turun menggantikan senja. dan hari ini tidak akan terulang lagi.

perlahan aku hapus air asin yang menggenang berat di pelupuk mata, mata wanita, dengan produktivitas kantung air mata yang tinggi. tapi hari ini aku tidak mau membuatmu gamang.. cukup aku yang tau, ini sangat tidak mudah. dengan lidah yang keluh pun aku memulai…

“mungkin benar, mungkin kesedihan datang bersama cinta. berjalan beriringan sebagai katalis yang menguatkan. atau mungkin kesedihan dan kebahagian hanya kilas tipis yang harus ada yang akan saling menguatkan dalam rekah keduanya.

atau mungkin cinta yang benar, dia selalu datang di antara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika kamu mencintai kamu akan menjadi kuat. dan sekali lagi cinta benar, karena mencintai itu.. tidak putus asa.

“…mungkin aku cuma persinggahan baikmu. kita mungkin dipertemukan untuk membuat diri kita menjadi lebih baik. terima kasih, karena sudah sama-sama aku. terimakasih untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan. terima kasih karena sudah mengajarkanku mencintai dengan berani. tanpa kau katakan pun… aku tau seberapa sayang yang kau punya.

“… seperti yang aku ketahui dari jauh-jauh hari, bahkan ketika semua ini baru kita mulai, hari ini akan datang. tapi aku selalu lupa untuk menyambutnya tanpa air mata. rasanya akan tetap sakit, walaupun setiap harinya selalu aku latih bagaimana melepas tanganmu perlahan, dan terus ku ulangi sampai tidak ada rasa kehilangan. namun tetap saja ada yang kosong di sini. tapi tak apa. aku akan terbiasa. aku akan terbiasa. perih itu akan terhapus dengan sendirinya.”

dan ketika kututup kalimat-kalimat panjangku, kamu pun tertunduk dan berlalu. matahari sore membawa sosokmu pergi, hingga bayanganmu pun tak lagi ku lihat.